Jika kita memang ingin menggunakan konten bersejarah untuk tujuan edukasi, lakukanlah dengan cara yang tepat. Alih-alih menyebarkan video mentah, kita bisa menggunakan narasi dari sumber-sumber kredibel seperti sejarawan, jurnalis investigasi, atau lembaga pendidikan. Diskusikan akar permasalahan, pelajaran yang bisa diambil, dan upaya-upaya rekonsiliasi yang telah dilakukan, bukan hanya kebrutalan visualnya. Pendekatan ini sejalan dengan semangat "digital storytelling" yang bertanggung jawab, di mana kreativitas digital berfungsi sebagai jembatan untuk membangun pemahaman, bukan untuk menghakimi.
Dua dekade telah berlalu, tetapi gemuruh sosial yang terjadi di Kalimantan Tengah pada bulan Februari 2001 hingga April 2001 masih membekas dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. "Tragedi Sampit"—yang secara akademis lebih dikenal sebagai Konflik Etnis Dayak versus Madura—menjadi salah satu episode tergelap dalam sejarah reformasi. Namun, di era internet dan media sosial, puluhan bahkan ratusan video dengan judul "video tragedi sampit" kembali beredar secara viral. Pertanyaannya: apakah semua video itu asli? Di mana letak kebenaran sejarah di tengah banjir konten digital? Dan mengapa masyarakat masih begitu haus akan visualisasi peristiwa kelam ini? video tragedi sampit
Konflik ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ketegangan antara kedua kelompok tersebut sebenarnya sudah terakumulasi selama bertahun-tahun. Beberapa faktor pemicu utamanya meliputi: Jika kita memang ingin menggunakan konten bersejarah untuk